Merendah Diri (Tawāḍu') Tapi Sombong
Sombong dengan Tawāḍu' (merendah diri) lebih parah daripada sombong dengan kesombongan. Orang sombong dengan kesombongannya (hal yang pantas ia sombongkan) sadar kalau dia sedang menyombongkan dirinya. Sedangkan orang sombong dengan Tawāḍu'nya, ia memperlihatkan Tawāḍu'nya di depan orang lain, bahkan memandang mereka rendah karena mereka tidak berlagak seperti dia dengan sifat Tawāḍu'. Ia tidak sadar bahwa dengan itu dia sudah sombong.
Sayyidunā Umar r.a berkata:
"Mengapa orang-orang mengira zuhud itu berlagak lemah dan memperlihatkan seolah tak berdaya. Ketika mereka berbicara, merendahkan suaranya. Ketika berjalan, membungkukkan tubuhnya, namun ketika berdiri dalam shalat, malah menegakkan kepala dan bahunya. Apakah mereka tidak takut akan sangkaan riya dan memamerkan?. Riya pada memamerkan sifat wara', berlagak khusyuk sama seperti riya pada keangkuhan dan kesombongan. Kedua orang itu sama-sama menginginkan agar orang-orang melihat dialah paling baik dengan (bungkusan) agama atau (yang satunya) dengan (bungkusan) dunia."
Ucap sayyidunā Umar bin Khaṭṭāb r.a ketika seseorang berjalan di depan beliau sambil membungkuk untuk menghormati beliau.
(Musalsal Umar ra.)
Bagaimana dengan kebiasan/adat membungkuk ketika melewati orang yang lebih tua di masyarakat (misalnya Jawa)? Apakah bisa dikategorikan sombong dengan tawadhu?
BalasHapus