Sosok Muslimah di Balik Sistem Universitas Modern


Sosok Muslimah di balik sistem universitas modern ini mematahkan tuduhan dan stigma haters tentang Islam yang tidak mengizinkan perempuan untuk mengenyam pendidikan. Bahkan mendefinisikan karakter Islam yang sebenarnya yang mewajibkan umatnya menuntut ilmu, tanpa memandang jenis kelamin.

Mungkin Anda tidak tahu tentang sosok ini, karena tidak ada sumber populer di luar buku-buku sejarah akademik mengenai zaman keemasan peradaban Islam yang pernah menyebutkan fakta semacam itu.

Sebaliknya, orang-orang pada umumnya cenderung berpikir bahwa Islam tidak akan pernah mengizinkan perempuan untuk menghadiri kelas-kelas di madrasah (sekolah), yang didirikan pada awal abad ke sembilan.

Sebenarnya, wanita Muslim sangat aktif dalam studi skolastik tentang Islam di masa awal. Aisya, salah satu istri Nabi ﷺ, adalah di antara ahli hukum Islam terkemuka pada masanya. Beliau juga terlibat dalam sejumlah peristiwa politik setelah kematian khalifah ketiga, Utsmān ibn Affan ra. Beliau juga menjadi sumber banyak hadits berkat kecerdasan dan ingatannya yang terkenal. Dan banyak contoh wanita-wanita lain, yang salah satunya pendiri universitas pertama dalam sejarah ini.

Beliau adalah Fāṭimah binti Muḥammad
Al-Fihriyyah, lahir pada tahun 800 M
di Qayrawan, Tunisia, Seorang putri
dari saudagar kaya raya yang kemudian
keluarganya berhijrah ke kota Fez, Maroko di masa Raja Idris II berkuasa.

Ketika suaminya meninggal, Fāṭimah
mendapat warisan yang berlimpah
ruah. Demikian pula harta dari
ayahnya yang turut diwarisi oleh
Fatimah dan adiknya Maryam
Al-Fihriyyah.

Namun kakak beradik ini sepakat menggunakan semua warisannya itu untuk membangun masjid dan universitas.

Fāṭimah memilih untuk membangun masjid, yang dinamakan al-Qarāwiyyīn, dan adiknya Maryam mendirikan masjid al-Andalus di Spanyol. 

Di Masjid Al-Qarāwiyyīn inilah dilangsungkan sistem pendidikan formal setingkat universitas.

Masjid ini kemudian bertransformasi menjadi universitas, yang kelak menjadi kiblat dunia pendidikan modern. Mulai dari kurikulum, sistem pengajaran, sampai ke urusan simbol
akademik. Hingga kini, pakaian mahasiswa (toga) ala Fāṭimah Al-Fihriyyah masih dipakai oleh kampus-kampus di segenap penjuru dunia. Toga yang berbentuk segi empat itu merupakan simbol yang terinspirasi oleh bentuk Ka'bah di Makkah, sebagai kiblat umat Islam.

Didirikan di kota tua Fez, pada tahun 245 H (859 M), 100 tahun sebelum Universitas Al-Azhar di Mesir (sekitar 975 M) muncul, 200 tahun sebelum universitas tertua di Eropa, Bologna di Italia (est 1088 M), dan Oxford (est 1096 M) - universitas tertua di Inggris, dan hampir 800 tahun sebelum apa yang dikenal dengan Harvard di AS (est. 1636 M).

Universitas al-Qarāwiyyīn di Maroko
diakui dalam 'Guinness Book of World
Records' sebagai lembaga tertua di
dunia yang beroperasi sebagai
universitas pemberi gelar akademik pertama dalam sejarah.

Abu Al-Abbas al-Zawawi, Abu Madhab
Al-Fasi, dan Leo Africanus adalah
beberapa pemikir, teoretikus, dan
penulis terkemuka yang diproduksi
universitas Al-Qarāwiyyīn. Pembuat
peta, astronom, dan sejarawan
terkenal hadir sebagai mahasiswa.

Jika Cambridge memiliki Newton yang
mengubah dunia, Al-Qarāwiyyīn juga
memiliki dua ikon yang mengubah
dunia mereka.

Ibn Rushd (1126-1198 M) atau Averroes
menerjemahkan dan menafsirkan
Aristoteles. Melalui karya-karyanya,
Eropa menemukan kembali Aristoteles
dan para sarjana Yunani.

Kurikulum awal difokuskan pada ilmu-ilmu agama dan kemudian mencakup disiplin ilmu lain seperti tata bahasa, geografi, sejarah, matematika, kedokteran, kimia dan astronomi.

Follow akun twitter kami di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

10 Lebih Penemuan Muslim

Manusia Paling Kaya Sejagat Raya Yang Pernah Ada